Ramadan
Dari Wikipedia bahasa Indonesia,
ensiklopedia bebas
Ramadan (bahasa Arab:رمضان;
transliterasi: Ramadhan)
adalah bulan kesembilan dalam penanggalan Hijriyah (sistem penanggalan agama
Islam). Sepanjang bulan ini pemeluk agama Islam
melakukan serangkaian aktivitas keagamaan termasuk di dalamnya berpuasa, salat tarawih, peringatan turunnya Alquran, mencari malam Laylatul Qadar, memperbanyak membaca Alquran dan
kemudian mengakhirinya dengan membayar zakat
fitrah dan rangkaian perayaan Idul Fitri.
Kekhususan bulan Ramadan ini bagi
pemeluk agama Islam tergambar pada Alquran pada surah Al-Baqarah ayat 183 yang artinya:
"bulan Ramadan, bulan yang
di dalamnya diturunkan Alquran sebagai petunjuk bagi manusia dan
penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda. Karena itu,
barangsiapa di antara kamu hadir di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada
bulan itu..."
—(Al-Baqarah 2: 183)
Etimologi
Ramadan berasal dari akar kata ر
م ﺿ , yang berarti panas
yang menyengat. Bangsa Babylonia yang budayanya pernah sangat dominan di utara
Jazirah Arab menggunakan luni-solar calendar (penghitungan tahun
berdasarkan bulan dan matahari sekaligus). Bulan kesembilan selalu jatuh pada
musim panas yang sangat menyengat. Sejak pagi hingga petang batu-batu gunung
dan pasir gurun terpanggang oleh sengatan matahari musim panas yang waktu
siangnya lebih panjang daripada waktu malamnya. Di malam hari panas di bebatuan
dan pasir sedikir reda, tapi sebelum dingin betul sudah berjumpa dengan pagi
hari. Demikian terjadi berulang-ulang, sehingga setelah beberapa pekan terjadi
akumulasi panas yang menghanguskan. Hari-hari itu disebut bulan Ramadan, bulan
dengan panas yang menghanguskan.
Setelah umat Islam mengembangkan
kalender berbasis bulan, yang rata-rata 11 hari lebih pendek dari kalender
berbasis matahari, bulan Ramadan tak lagi selalu bertepatan dengan musim panas.
Orang lebih memahami 'panas'nya Ramadan secara metaphoric (kiasan). Karena di
hari-hari Ramadan orang berpuasa, tenggorokan terasa panas karena kehausan.
Atau, diharapkan dengan ibadah-ibadah Ramadan maka dosa-dosa terdahulu menjadi
hangus terbakar dan seusai Ramadan orang yang berpuasa tak lagi berdosa.
Wallahu `alam.
Dari akar kata tersebut kata Ramadan
digunakan untuk mengindikasikan adanya sensasi panas saat seseorang kehausan.
Pendapat lain mengatakan bahwa kata Ramadan digunakan karena pada bulan itu
dosa-dosa dihapuskan oleh perbuatan baik sebagaimana matahari membakar tanah. Namun kata ramadan tidak
dapat disamakan artinya dengan ramadan. Ramadan dalam bahasa arab artinya orang
yang sakit mata mau buta. Lebih lanjut lagi hal itu dikiaskan dengan
dimanfaatkannya momen Ramadan oleh para penganut Islam yang serius untuk mencairkan,
menata ulang dan memperbaharui kekuatan fisik,
spiritual dan tingkah lakunya, sebagaimana panas
merepresentasikan sesuatu yang dapat mencairkan materi.[1]
Aktivitas
keagamaan
Suasana berbuka puasa
(iftar) bersama di masjid.
Puasa
Ramadan
Selama bulan Ramadan, penganut agama
Islam akan berpuasa setiap hari sampai Idul Fitri tiba. Ied artinya Hari
Raya. Fithri berasal dari kata fathara artinya 'memecah,
mengakhiri". Ied al-Fithri artinya Hari Raya Mengakhiri Puasa (Ramadan).
Hari terakhir dari bulan Ramadan
dirayakan dengan sukacita oleh seluruh muslim di dunia. Pada malam harinya
(malam 1 Syawal), yang biasa disebut malam kemenangan, mereka akan mengumandangkan
takbir bersama-sama. Di Indonesia sendiri ritual ini menjadi tontonan yang
menarik karena biasanya para penduduk (yang beragama Islam) akan
mengumandangkan takbir sambil berpawai keliling kota dan kampung, kadang-kadang
dilengkapi dengan memukul beduk dan menyalakan kembang api.
Esoknya tanggal 1 Syawal, yang
dirayakan sebagai hari raya Idul Fitri, baik laki-laki maupun perempuan muslim
akan memadati masjid maupun lapangan tempat akan dilakukannya Salat Ied. Salat
dilakukan dua raka'at kemudian akan diakhiri oleh dua khotbah mengenai Idul
Fitri. Perayaan kemudian dilanjutkan dengan acara saling memberi ma'af di
antara para muslim, dan sekaligus mengakhiri seluruh rangkaian aktivitas
keagamaan khusus yang menyertai Ramadan.
Salat
tarawih
Pada malam harinya, tepatnya setelah
salat isya, Kaum Muslimin melanjutkan
ibadahnya dengan melaksanakan salat tarawih. Salat khusus yang hanya dilakukan
pada bulan Ramadan. Salat tarawih, walaupun dapat dilaksanakan dengan
sendiri-sendiri, umumnya dilakukan secara berjama'ah di masjid-masjid. Terkadang sebelum pelaksanaan
salat tarawih pada tempat-tempat tertentu, diadakan ceramah singkat untuk
membekali para jama'ah dalam menunaikan ibadah pada bulan bersangkutan. Setelah
melaksanakan sholat tarawih, biasanya langsung di lanjutkan dengan sholat witir
sebanyak 3 rakaat.
Turunnya
Alquran
Pada bulan ini di Indonesia,
tepatnya pada tanggal 17 Ramadhan, (terdapat perbedaan pendapat para ulama
mengenai tanggal pasti turunnya Alquran untuk pertama kalinya[2]) diperingati juga sebagai hari turunnya
ayat Alquran (Nuzulul Quran) untuk pertama kalinya oleh
sebagian muslim. Pada peristiwa tersebut surat Al-'Alaq ayat 1 sampai 5 diturunkan pada
saat Nabi Muhammad SAW sedang berada di Gua Hira. Peringatan peristiwa ini biasanya
dilakukan dengan acara ceramah di masjid-masjid. Tetapi
peringatan ini di anggap bidah, karena Rasulullah
tidak mengajarkan, Awal di peringati di Indonesia, ketika Presiden Soekarno mendapat saran dari Hamka
untuk memperingati setiap Nuzulul Quran, karena bertepatan dengan tanggal
Kemerdekaan Indonesia, sebagai rasa Syukur kemerdekaan Indonesia.
Lailatul
Qadar
Lailatul Qadar (malam ketetapan), adalah satu malam yang khusus terjadi di
bulan Ramadan. Malam ini dikatakan dalam Alquran pada surah Al-Qadr, lebih baik daripada seribu bulan.
Saat pasti berlangsungnya malam ini tidak diketahui namun menurut beberapa riwayat,
malam ini jatuh pada 10 malam terakhir pada bulan Ramadan, tepatnya pada salah
satu malam ganjil yakni malam ke-21, 23, 25, 27 atau ke-29. Sebagian muslim
biasanya berusaha tidak melewatkan malam ini dengan menjaga diri tetap terjaga
pada malam-malam terakhir Ramadan sembari beribadah sepanjang malam.[3]
Umrah
Ibadah umrah jika dilakukan pada
bulan ini mempunyai nilai dan pahala yang lebih bila dibandingkan dengan bulan
yang lain. Dalam Hadis dikatakan "Umrah di bulan Ramadan
sebanding dengan haji atau haji bersamaku." (HR: Bukhari dan Muslim).[4]
Zakat
Fitrah
Zakat fitrah adalah zakat
yang dikeluarkan khusus pada bulan Ramadan atau paling lambat sebelum
selesainya salat
Idul Fitri. Setiap individu muslim yang berkemampuan wajib membayar zakat
jenis ini. Besarnya zakat fitrah yang harus dikeluarkan per individu adalah
satu sha' makanan pokok di daerah bersangkutan. Jumlah ini bila dikonversikan
kira-kira setara dengan 2,5 kilogram atau 3,5 liter beras. Penerima Zakat
secara umum ditetapkan dalam 8 golongan (fakir, miskin, amil, muallaf, hamba sahaya, gharimin, fisabilillah,
ibnu sabil) namun menurut beberapa ulama khusus untuk zakat fitrah mesti didahulukan
kepada dua golongan pertama yakni fakir dan miskin. Pendapat ini disandarkan
dengan alasan bahwa jumlah zakat yang sangat kecil sementara salah satu
tujuannya dikeluarkannya zakat fitrah adalah agar para fakir dan miskin dapat
ikut merayakan hari raya.
Idul
Fitri
Akhir dari bulan Ramadan dirayakan
dengan sukacita oleh seluruh muslim di seluruh dunia. Pada malam harinya (malam
1 Syawal), yang biasa disebut malam kemenangan,
mereka akan mengumandangkan takbir bersama-sama. Di Indonesia sendiri ritual
ini menjadi tontonan yang menarik karena biasanya para penduduk (yang beragama
Islam) akan mengumandangkan takbir sambil berpawai keliling kota dan kampung,
kadang-kadang dilengkapi dengan memukul beduk dan menyalakan kembang api.
Esoknya tanggal 1 Syawal, yang
dirayakan sebagai hari raya Idul Fitri, baik
laki-laki maupun perempuan muslim akan memadati masjid maupun lapangan tempat akan dilakukannya Salat Ied. Salat
dilakukan dua raka'at kemudian akan diakhiri oleh dua khotbah mengenai Idul
Fitri. Perayaan kemudian dilanjutkan dengan acara saling memberi maaf di antara
para muslim, dan sekaligus mengakhiri seluruh rangkaian aktivitas keagamaan
khusus yang menyertai Ramadan.
Penentuan
awal Ramadan
Kalender Hijriyah didasarkan pada revolusi bulan
mengelilingi bumi dan awal setiap bulan ditetapkan saat
terjadinya hilal (bulan sabit). Metode penentuan saat
terjadinya hilal yang digunakan saat ini adalah metode penglihatan dengan mata
telanjang (dikenal dengan istilah rukyah) serta menggunakan metode perhitungan astronomi (dikenal dengan istilah hisab).
Persatuan Islam (persis) dan Majelis Ulama Indonesia (M.U.I)menggunakan
kombinasi hisab dan rukyah untuk penentuan hilal. Nahdlatul Ulama (N.U) serta Kementerian Agama RI
selaku Pemerintah RI
menggunakan metode rukyatul hilal; sementara Muhammadiyah menggunakan hisab hakiki wal
wujudul hilal sebagai sandaran penentuan hilal.[5] Perbedaan metode ini menyebabkan adanya
kemungkinan perbedaan hasil penetapan kapan awal dan berakhirnya Ramadan
sebagaimana sempat terjadi pada tahun 1998
M (1418 H).
Aspek
ekonomi
Iftar di Masjid Sultan Ahmed
di Istanbul, Turki
Bulan Ramadan di Indonesia dan negara dengan
penduduk mayoritas Islam pada umumnya dapat dihubungkan dengan
meningkatnya daya beli
dan perilaku konsumtif masyarakat akan barang dan jasa. Di
Indonesia sendiri hal ini terkait erat dengan kebiasaan pemerintah dan perusahaan swasta untuk memberikan Tunjangan Hari Raya (THR)
kepada para pegawainya. Peningkatan ini terjadi di hampir semua sektor dari
transportasi, makanan, minuman hingga kebutuhan rumah tangga. Sehingga tidak jarang tingkat inflasi pun mencapai titik tertinggi pada periode
bulan ini.[6] Fenomena ini secara kasat mata terlihat
dengan menjamurnya para pedagang musiman yang menjajakan berbagai komoditas
mulai dari makanan hingga pakaian, di ruang-ruang publik terutama di pinggir
jalanan. Di samping juga maraknya penyelenggaraan bazar baik yang disponsori
oleh pemerintah, swasta, organisasi tertentu maupun swadaya masyarakat.
Lain-lain
- Pada bulan ini pada sebagian daerah di Indonesia, berkembang kebiasaan jalan-jalan sembari menunggu waktu berbuka, di Bandung kebiasaan ini dikenal dengan nama Ngabuburit, di Indramayu dikenal dengan nama Luru Sore (Cari Sore), di (Cilegon) dikenal dengan istilah (Nyenyore) (Menunggu Sore). Biasanya saat ini juga dimanfaatkan untuk membeli makanan dan minuman untuk dipergunakan saat berbuka puasa.
- Di Indonesia umumnya orang berbuka puasa dengan yang manis-manis, padahal hidangan yang mengadung gula tinggi justru akan mengakibatkan dampak yang buruk bagi kesehatan. Hal ini berasal dari kesimpulan yang tergesa-gesa atas sebuah hadis bahwa Rasulullah berbuka puasa dengan kurma. Karena kurma rasanya manis, maka muncul anggapan bahwa berbuka (disunahkan) dengan yang manis-manis. Pada akhirnya kesimpulan ini memunculkan budaya berbuka puasa yang keliru di tengah masyarakat.
Durasi
waktu berpuasa
Waktu berpuasa ditentukan oleh masa
terbit hingga terbenam, maka posisi matahari terhadap bumi berpengaruh dalam lama
waktu seseorang menjalankan puasa. Sebagaimana negara-negara beriklim tropis di area khatulistiwa yang memiliki durasi seimbang
(sekitar 12 jam masa siang dan sekitar 12 masa malam), maka durasi berpuasa
cenderung stabil dari tahun ke tahun. Hal berbeda dialami oleh negara yang
berada di belahan bumi utara dan bumi selatan yang mengalami "perubahan
ekstrem", yakni ketika musim dingin lama waktu berpuasa menjadi lebih
singkat (kurang dari 12 jam) sedangkan ketika musim panas akan bertambah lama (lebih
dari 12 jam).
Berikut ini adalah sampel data lama
waktu berpuasa ketika di bumi belahan utara mengalami musim panas.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar